7 HAL YANG HANYA DIALAMI OLEH GURU MUDA
yuk jadi guru
Bagi sebagian fresh
graduate, bahkan yang
lulus dari fakultas kependidikan, menjadi guru bukanlah pilihan profesi utama.
Tak usah jauh-jauh mencari contoh, teman seangkatan saya di Sekolah Tinggi
Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang jumlahnya hampir 500 orang, mungkin hanya 20
% nya yang menjadi guru, itupun kadang tidak sesuai dengan jurusan yang
diambilnya semasa kuliah. Bukan tanpa alasan, selain karena faktor gaji,
menemukan sekolah yang pas sesuai jurusan semasa kuliah faktanya bukanlah hal
mudah. Tidak sedikit teman saya sesama jurusan Bahasa Inggris yang
akhirnya menjadi guru PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, bahkan guru SD,
karena lowongan menjadi guru bahasa Inggris susah didapat.
Karena menjadi guru adalah
kebahagiaan :)
Nah, bagi yang beruntung bisa menjadi guru sejak lulus kuliah
atau bahkan sebelum itu, menjadi guru di usia muda tentu bukan hal mudah. Saya
sendiri mulai pertama kali mengajar sejak usia 20 tahun ketika masih kuliah,
kala itu harus mengajar siswa SD-SMA di lembaga bimbingan belajar milik dosen
saya. Menjadi guru di usia muda, ketika teman-teman seusia saya banyak
berkiprah di perusahaan-perusahaan swasta dan BUMN dengan gaji puluhan kali
lipat dari gaji yang saya dapat, jenjang karier yang kian menanjak dan
seterusnya, adalah tantangan untuk keteguhan hati tetap memilih profesi ini.
Dan bagi semua yang memutuskan untuk
memilih profesi ini sebagai karier pertama dan utama sejak jadi fresh
graduate,pastinya
mengalami suka duka tersendiri yang susah dilupakan dan hanya bisa dirasakan
jika kita menjadi guru.
Beberapa hal
yang cuma bisa dirasakan oleh mereka yang memilih menjadi guru walau masih
muda, diantara banyaknya pilihan profesi lain yang lebih menggiurkan:
1. Menjadi guru
di usia muda berarti kita akan terlibat di hampir semua kegiatan sekolah. Mulai dari kepanitiaan karya wisata, classmeeting, upacara Hardiknas, persami,
penerimaan siswa baru bahkan sampai lomba Adi Wiyata. Nggak akan ada satupun
kegiatan yang terlewat tanpa kehadiran para guru muda yang (kata para senior)
masih bisa wara wiri kesana kemari. Ini sekaligus jadi ajang untuk
mengembangkan diri dan mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah dilakukan
sebelumnya, secara tidak langsung melatih kemampuan berorganisasi juga.
Ketika membersamai para siswa melakukan kunjungan
industri ke salah satu stasiun televisi di Jawa Timur.
2. Banyak murid
yang terkadang ‘keceplosan’ memanggil Mbak, Mas atau Kak dibanding Pak/Bu. Ini
kadang jadi keseruan sekaligus keanehan tersendiri karena ketika para murid
terbiasa memanggil guru dengan Bapak atau Ibu guru tetapi ketika bertemu kita
malah menyapa dengan ‘Kak’. Sebenarnya ini bukan masalah berarti selama tidak
mengurangi wibawa di dalam kelas, karena perasaan dekat secara usia yang
dirasakan murid-murid juga bisa menjadi modal tersendiri bagi para guru muda
agar lebih mudah membaur dengan para siswa dan dekat dengan mereka.
statusnya guru dan murid, tapi perbedaan usia yang
tidak terlalu jauh membuat mereka merasa dekat :)
3. Perbedaan
mindset dan cara memandang sesuatu dengan para senior. Guru senior atau yang lebih
tua biasanya menang di pengalaman mengajar dan asam garam menghadapi aneka
tingkah laku siswa, sementara guru muda mengandalkan perbedaan usia yang tidak
terlalu jauh serta kemampuan IT dan update informasi dan tren terbaru di
kalangan siswa yang biasanya kurang diikuti oleh para guru senior.
4. Ketika hang
out dengan teman kampus atau teman-teman seusia, bakal sering dipanggil pakai
kata “Bu Guruu” atau “Pak Guruu” sambil ketawa-ketawa. Bukan karena profesi ini
lucu, tapi karena menjadi guru di usia muda adalah salah satu hal yang cukup
anti-mainstream belakangan ini. Apalagi kalau ‘sekedar’ jadi guru honorer alias
GTT.
5. Di
lingkungan tempat tinggal, pemuda yang jadi guru akan mendapat wibawa tersendiri. Para tetangga dan
sesepuh kampung biasanya respect sama pemuda yang mau jadi guru.
Tentu saja asal jadi guru yang baik dan bisa memberi contoh positif di
lingkungan.
6. Anti-galau. Usia muda biasanya rentan dengan
rasa galau karena ini itu. Tapi setidaknya menjadi guru akan meminimalisir
perasaan galau berlebih karena mau nggak mau menjadi guru berarti harus tampil
prima dan anti cemberut di depan kelas. Jadi kalau lagi galau entah karena apa,
pasti akan berusaha tetap tersenyum ceria. Apalagi kalau sudah bertemu dengan
para siswa dengan keceriaan mereka, dijamin obat galau yang manjur!
7. Gaya hidup
sederhana. Menjadi
guru honorer apalagi di kota kecil atau pelosok, tentu tidak menjanjikan
penghasilan yang wah. Ini juga yang membuat para guru akan terlihat ‘berbeda’
dari segi gaya hidup dan penampilan jika dibandingkan mereka yang bekerja di
perusahaan-perusahaan terkemuka. Walau sederhana, kesediaan untuk mengabdikan
diri bagi perbaikan pendidikan negeri ini tentu bukan hal yang sederhana.
Pasti para guru yang memulai karier
sejak masih muda, atau para pemuda yang sekarang memilih menjadi guru sedang
tersenyum membaca poin-poin diatas. Hehe. Setiap profesi tentu ada seni dan
suka duka nya, termasuk menjadi guru. Setidaknya 7 hal diatas mewakili apa yang
saya amati dan rasakan selama menjalani profesi ini. Bagaimana dengan bapak/ibu
guru sekalian? Adakah yang mengalaminya juga?
21.05
Susah Nya Menjadi Guru Honorer
yuk jadi guru
Post ini saya
dedikasikan untuk seluruh guru di berbagai belahan dunia. Saya acungkan semua
jempol yang saya punya untuk mereka. Betapa tidak, untuk menjadi seorang guru
(dalam konteks guru yang benar) itu sangatlah susah.
Menurut saya,
maju mundurnya suatu negara dilihat dari pendidikannya. Bukan dari presidennya,
bukan dari para insinyurnya, bukan dari para pedagangnya, bukan dari
teknologinya, bukan dari pertaniannya. Pada dasarya hal tersebut merupakan
komponen-komponen yang ditentukan oleh bidang pendidikan.
Kita akan
mempunyai presiden yang bagus apabila presiden tersebut telah mendapatkan
pendidikan yang bagus pula baik teoretis kepemerintahan maupun segi akhlak.
Kita akan punya para insinyur berbakat jika mereka ditempa oleh pendidikan yang
hebat. Kita akan punya pedagang-pedagang handal jika mereka telah mengenyam
pendidikan yang baik. Kita akan punya para ahli teknologi jika mereka sudah
belajar banyak tentang teknologi dari pendidikan. Kita pun akan punya lahan
yang subur jika masyarakat sudah tahu bagaimana mengolahnya. Gampangnya,
pendidikan merupakan proses membuat individu yang tadinya tidak tahu menjadi
tahu, dan yang tadinya tahu menjadi lebih tahu lagi. Kita bandingkan hal diatas
dengan pendidikan. Justru dari pendidikannya, dari gurunya, dari individu
yang dihasilkan oleh pendidikannya kita mendapatkan individu-individu yang
berkualitas dan dapat membangun bangsa.
Kebetulan saya
kuliah di bidang pendidikan. Jadi boleh kan saya angkat bicara tentang hal
besar di dunia pendidikan, yaitu guru?
Sekarang saya
tahu, tugas seorang guru itu bukan hanya mengajar, tetapi juga mendidik dan
melatih. Ingat, guru harus bisa mengajar, mendidik, dan
melatih. Dulu saya cuma tahu kalau tugas guru adalah mengajar.
Mengajar mata pelajaran seperti Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dll. Tapi
sekarang saya tahu apa sebenarnya tugas guru, dan mengapa guru di negara kita
masih dianggap kurang berhasil. Hal itu disebabkan sebagian besar guru hanya
mengajar, dan melatih, tetapi tidak mendidik. Para guru tersebut hanya mengembangkan
kognitif anak tetapi lupa akan segi afektif anak yaitu perilaku anak. Padahal
antara kognitif, afektif, dan psikomotor haruslah seimbang. Ternyata memang
susah untuk mendidik anak. Untuk menjadi guru yang baik, seorang guru harus
mengikuti apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara, Ing arso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri
Handayani. Artinya, didepan menjadi teladan, ditengah membangun
karya, dan mendorong dari belakang. Guru harus bisa menjadi teladan bagi para
siswanya, baik teladan dari segi penampilan, cara bicara, sopan santun dan
sebagainya karena nantinya para siswa akan meniru guru-guru mereka. Guru harus
bisa mengajar, mendidik, dan melatih siswa agar menghasilkan sebuah karya yaitu
individu yang terampil. Lalu guru juga harus bisa memotivasi siswa agar mereka
semangat untuk terus belajar.
Susahnya jadi
guru, untuk mengajar di PAUD, TK dan SD saja para calon guru harus kuliah
selama 4 tahun. Para guru harus mengetahui fase perkembangan anak, psikologis
anak, cara menghadapi anak, dan semua hal yang berhubungan dengan anak didiknya
nanti. Tapi justru ini hal pentingnya, pendidikan saat usia anak masih
cenderung muda itu tantangannya. Kenapa? Karena saat usia seseorang masih
dikategorikan anak-anak, mereka belum memahami untuk apa kita belajar ini itu,
pikiran mereka masih terpaku pada kesenangan bermainnya. Mungkin terasa susah
dan penuh tanggung jawab saat mengajar anak SD. Karena SD merupakan dasar
pendidikan formal bagi mereka (PAUD atau TK lebih cenderung bermain). Jika ada
salah pembelajaran, maka hal itu akan terus ikut kedepannya sampai SMP, SMA,
bahkan PT. Misalnya saja, guru SD salah mengajarkan anak menulis angka 8. Maka
sampai besarpun mereka akan terus salah menulis angka 8 itu. Alasan lain adalah
anak didik yang dihadapi oleh guru SD adalah anak umur 7-12 tahun. Guru SD
harus memahami bagaimana cara menyikapi anak di rentang usia tersebut, dan hal
itu tidak mudah. Banyak anak yang masih gemar bermain dan susah memperhatikan
guru mengajar. Padahal materi pelajaran harus disampaikan pada siswa. Guru SD
harus sabar menghadapi siswanya yang masih anak-anak. Harus bisa menyikapi
siswa yang masih mempunyai keinginan bermain yang besar dan psikis yang belum
matang. Belum lagi guru SD yang sering disebut guru
borongan karena mereka harus mengajar banyak mata pelajaran.
Otomatis guru tersebut harus bisa segala mata pelajaran, harus mempunyai
pengetahuan yang luas, dan harus menguasai banyak mata pelajaran dan
pembelajarannya.
Lihat, betapa
susahnya menjadi seorang guru. Betapa mulianya seorang guru juga betapa
beratnya tanggungjawab seorang guru. Tapi susah atau gampangnya itu termasuk
relatif. Sebaiknya guru melakukan tugasnya dengan ikhlas, sehingga ia bisa
menikmati juga indahnya menjadi guru. Indahnya bisa berbagi ilmu dan
menjadi motivator anak bangsa.
20.58
PENGERTIAN, PERAN DAN FUNGSI GURU DAN GURU PROFESIONAL
yuk jadi guru

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Guru memang
menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh
masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur
guru. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya guru, maka dapat mendidik
dan membentuk kepribadian anak didik mereka dengan baik agar mempunyai
intelektualitas yang tinggi serta jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab. Jadi
dalam pengertian yang sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan guru dalam pandangan
masyarakat itu sendiri adalah orang yang melaksanakan pendidikan
ditempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan yang formal saja
tetapi juga dapat dilaksanakan di lembaga pendidikan non-formal seperti di
masjid, di surau/mushola, di rumah dan sebagainya.
Seorang guru
mempunyai kepribadian yang khas. Disatu pihak guru harus ramah, sabar,
menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan dan menciptakan suasana aman.
Akan tetapi di lain pihak, guru harus memberikan tugas,mendorong siswa untuk
mencapai tujuan, menegur, menilai, dan mengadakan koreksi. Dengan demikian,
kepribadian seorang guru seolah-olah terbagi menjadi 2 bagian. Di satu pihak
bersifat empati, di pihak lain bersifat kritis. Di satu pihak menerima, di lain
pihak menolak. Maka seorang guru yang tidak bisa memerankan pribadinya sebagai
guru, ia akan berpihak kepada salah satu pribadi saja. Dan berdasarkan hal-hal
tersebut, seorang guru harus bisa memilah serta memilih kapan saatnya berempati
kepada siswa, kapan saatnya kritis, kapan saatnya menerima dan kapan saatnya
menolak. Dengan perkatan lain, seorang guru harus mampu berperan ganda. Peran
ganda ini dapat di wujudkan secara berlainan sesuai dengan situasi dan kondisi
yang di hadapi.
Tugas guru
sebagai suatu profesi, menuntut kepada guru untuk mengembangkan profesionalitas
diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar,
dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru
sebagai pendidik, meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak
didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti
mengembangkan ketrampilan dan menerapakannya dalam kehidupan demi masa depan
anak didik. Guru juga mempunyai kemampuan, keahlian atau sering disebut dengan
kompetinsi profesional. Kompetensi profesional yang dimaksud tersebut adalah
kemampuan guru untuk menguasai masalah akademik yang sangat berkaitan dengan
pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga kompetensi ini mutlak dimiliki
guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas
adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa
pengertian dari Guru?
2. Apakah
peran dan fungsi Guru?
3. Apa
pengertian dari guru profesioal?
4. Kompetensi
dasar apasajakah yang harus dimiliki oleh guru profesional?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah
ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat
menjelaskan pengertian dari guru.
2. Dapat
mendeskripsikan peran dan fungsi seorang guru.
3. Dapat
menjelaskan pengertian dari guru profesional.
4. Dapat
mengidentifikasi kompetensi dasar seorang guru profesional.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian
Guru
Guru dalam
bahasa jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh
semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya segala
sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakkini sebagai
kebenaran oleh semua murid. Sedangkan ditiru artinya seorang
guru harus menjadi suri teladan(panutan) bagi semua muridnya.
Secara
tradisional guru adalah seorang yang berdiri didepan kelas untuk menyampaikan
ilmu pengetahuan.
Guru sebagai
pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan seperti ibu kedua yang mengajarkan
berbagai macam hal yang baru dan sebagai fasilitator anak supaya dapat
belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal,hanya
saja ruang lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar di sekolah negeri ataupun swasta.
1. Menurut Noor Jamaluddin (1978: 1) Guru adalah
pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau
bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar
mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya
sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan
individu yang sanggup berdiri sendiri.
2. Menurut Peraturan Pemerintah Guru adalah jabatan
fungsional, yaitu kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan
hak seorang PNS dalam suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya
didasarkan keahlian atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.
3. Menurut Keputusan Men.Pan Guru adalah
Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab oleh
pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah.
4. Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah.
B. Peran
dan Fungsi Guru
Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran
guru yang harus dilakoni. Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan
dikaji oleh Pullias dan Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein
(1997).
Adapun
peran-peran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi
para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki
standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan
disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan
dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh
pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas
dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab
kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan
dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal
dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan
pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus
mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang
dengan norma-norma yang ada.
2. Guru Sebagai Pengajar
Peranan guru
sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar
peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan,
hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa
aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas
dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik.
Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan
terampil dalam memecahkan masalah.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran,
yaitu: Membuat ilustrasi, Mendefinisikan, Menganalisis, Mensintesis, Bertanya,
Merespon, Mendengarkan, Menciptakan kepercayaan, Memberikan pandangan yang
bervariasi, Menyediakan media untuk mengkaji materi standar, Menyesuaikan
metode pembelajaran, Memberikan nada perasaan.
Agar pembelajaran memiliki kekuatan yang maksimal, guru-guru harus
senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan semangat yang telah
dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
3. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan
pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu.
Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga
perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam
dan kompleks.
Sebagai
pembimbing perjalanan guru memerlukan kompetensi yang tinggi untuk melaksanakan
empat hal berikut:
1.
Guru harus
merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.
2.
Guru harus
melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting
bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara
jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
3.
Guru harus
memaknai kegiatan belajar.
4.
Guru harus
melaksanakan penilaian.
5.
Guru Sebagai
Pemimpin
6.
Guru diharapkan
mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan. Guru menjadi pemimpin bagi peserta
didiknya. Ia akan menjadi imam.
7.
Guru Sebagai
Pengelola Pembelajaran
8.
Guru harus
mampu menguasai berbagai metode pembelajaran.Selain itu, guru juga dituntut
untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan
keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman.
9.
Guru Sebagai
Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang
yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk
menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak.
Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat
sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang menganggap atau
mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru:
sikap dasar, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja, sikap melalui
pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan kemanusiaan, proses berfikir,
perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan, gaya hidup secara umum.
Perilaku guru sangat mempengaruhi peserta didik, tetapi peserta didik harus
berani mengembangkan gaya hidup pribadinya sendiri.
Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang diinginkan
dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika memang
bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak
mengulanginya.
Sebagai
Anggota Masyarakat
Peranan guru
sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan
aktif dalam pembangunan disegala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan
kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk berbaur dengan masyarakat
melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah raga, keagamaan
dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak
pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima
oleh masyarakat.
Guru sebagai
administrator
Seorang guru
tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator
pada bidang pendidikan dan pengajaran. Guru akan dihadapkan pada berbagai tugas
administrasi di sekolah. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara
administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar
mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang
dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan
sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya
dengan baik.
Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik juga bagi orang tua,
meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam
beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.
Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat
keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada gurunya. Agar guru dapat
menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat secara lebih
mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental.
Guru Sebagai Pembaharu (Inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang
bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini, terdapat jurang yang dalam dan luas
antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang
tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek kita. Seorang peserta didik yang
belajar sekarang, secara psikologis berada jauh dari pengalaman manusia yang
harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam pendidikan.
Tugas guru adalah menerjemahkan kebijakan dan pengalaman yang berharga ini
kedalam istilah atau bahasa moderen yang akan diterima oleh peserta didik.
Sebagai jembatan antara generasi tua dan genearasi muda, yang juga penerjemah
pengalaman, guru harus menjadi pribadi yang terdidik.
Guru Sebagai Pendorong Kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran dan guru
dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreatifitas tersebut.
Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat universal dan merupakan cirri aspek
dunia kehidupan di sekitar kita. Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan
menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh
seseorang atau adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu.
Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa berusaha untuk menemukan cara yang
lebih baik dalam melayani peserta didik, sehingga peserta didik akan
menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak melakukan sesuatu secara rutin
saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang
lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya.
Guru Sebagai
Emansipator
Dengan
kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik, menghormati setiap
insan dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak” stagnasi
kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan seringkali
membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan, kebodohan
dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan peran sebagai
emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril dan mengalami
berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang percaya diri.
Guru Sebagai
Evaluator
Evaluasi
atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena
melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variable lain yang
mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin
dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik apapun yang dipilih,
dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga
tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Guru Sebagai
Kulminator
Guru adalah
orang yang mengarahkan proses belajar secara bertahap dari awal hingga akhir
(kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik akan melewati tahap kulminasi,
suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta didik bisa mengetahui kemajuan
belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan peran sebagai evaluator.
Guru
sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa dan serba tahu. Serta
mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada muridnya dengan cara yang
sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik.
Begitu banyak peran yang harus diemban oleh seorang guru. Peran yang begitu
berat dipikul di pundak guru hendaknya tidak menjadikan calon guru mundur dari
tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi
bagi calon guru. Dia harus menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang
menjalani peran guru. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun
dengan utuh. Penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju
kehancuran.
C. Kompetensi Guru
Menurut
Mulyasa kompetensi
adalah perpaduan dari
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan
berfikir dan bertindak. Menurut Muhaimin, kompetensi adalah seperangkat
tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai
syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan
tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan
keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai
kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun
etika. Menurut Muhibbin Syah kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan.
Berdasarkan
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian kompetensi
guruadalah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh
seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan
perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya
menurut Muhibbin Syah, dikemukakan bahwa kompetensi
guru adalahkemampuan seorang guru dalam
melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.
Kompetensi guru juga dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh
tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya .
Menurut Mulyasa kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal,
keilmuan, sosial, spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar
profesi guru yang mencakup penguasaan
materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik,
pengembangan pribadi dan profesionalisme.
Jadi
kompetensi profesional guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan
guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional
adalah guru piawai dalam melaksanakan profesinya. Berdasarkan uraian di atas
kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan
bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru. Guru sebagai agen pembelajaran
diharapkan memiliki empat jenis
kompetensi guru. Empat kompetensi tersebut
yakni kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan kompetensi profesional.
Sebelum membahas tentang kompetensi sosial dan kepribadian, penulis uraikan
secara singkat tentang kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.
Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan “Kompetensi guru sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi”
Bahwa guru yang profesional itu memiliki
empat kompetensi atau standar kemampuan yang meliputi kompetensi Kepribadian,
Pedagogik, Profesional, dan Sosial. Kompetensi guru adalah kebulatan
pengetahuan , keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh
tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.
Sebagai agen pembelajaran maka guru dituntut untuk kreatif dalam mnenyiapkan metode
dan strategi yang cocok untuk kondisi anak didiknya, memilih dan menetukan
sebuah metode pembelajaran yang sesuai dengan indikator pembahasan.
Dengan sertifikasi dan predikat guru profesional yang disandangnya, maka guru
harus introspeksi diri apakah saya sudah mengajar sesuai dengan cara-cara
seorang guru profesional. Sebab disadarai atau tidak banyak diantara kita
para pendidik belum bisa menjadi guru yang profesional sebagai mana yang
diharapkan dengan adanya sertifikasi guru sampai saat ini.
A. Kompetensi kepribadian
Adalah kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan
bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi
kepribadian meliputi :
1.
Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma
sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai
dengan norma.
2.
Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak
sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.
3.
Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada
kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan
dalam berpikir dan bertindak.
4.
Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh
positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.
5.
Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan
norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku
20.53
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
